MATERI

Pengkhianat yang Pahlawan


HL | 25 August 2012 | 13:19
*
Pagi.
Andin sedang mengoreksi beberapa berkas di meja kerjanya ketika tiba-tiba didekati oleh Hendri, kepala staf keuangan. Sapaan itu bukan bermaksud untuk menanyakan perkembangan audit yang diampu oleh perempuan berkacamata itu, tapi si laki-laki mencoba peruntungannya. Pendekatan yang kesekian kali, tapi entah mengapa ia masih saja menggunakan cara yang sama.
“Aru tak mungkin bisa disebut pahlawan,” kata Hendri mengomentari.
Tentu itu sapaan paling mudah bagi laki-laki. Menyinggung bacaan atau pekerjaan si perempuan. Hendri rupanya cukup terlatih melihat profil sehingga sadar betul beberapa naskah bertuliskan I La Galigo teranggurkan di tepi meja. Andin terusik, kemudian melipat kedua lengannya. Menatap mata Hendri yang sontak kikuk. Saling serang dimulai.
“Apa maksudmu?” tanya Andin lurus.
Hendri menegakkan badannya. “Aru Palaka?”
“Ya, aku tahu siapa yang kau maksud engan Aru. Dia pahlawan Bone dan sebagian orang Bugis masa kini. Apa masalahmu?”
“Oh, itulah. Menurutku orang itu tak pantas disebut pahlawan, bahkan bagi rakyat kalian. Maaf, maksudku, orang-orang Bugis.”
Hendri melakukan kesalahan kecil itu lagi. Menggunakan kata ‘kalian’ untuk menunjuk suku bangsa yang disandang Andin sejak kecil. Juga memaksakan ‘orang itu’ untuk merujuk sang tokoh sanjungan. Hendri seorang Makassar, tapi itu dua puluh tahun lalu. Selepas kuliah ia memutuskan meninggalkan predikat kesukuannya demi apa yang disebutnya sebagai ‘nasionalisme pluralis’.
Pendekatan ini nampaknya akan menemui terowongan gelap lagi. Tapi ternyata Andin tersenyum, yang, membuat Hendri ikut tersenyum lalu menjelaskan dengan gagah.
“Pertempuran antara Kerajaan Gowa dengan Vereniiging Oost-Indie Compagnie pertengahan tahun 1650-an terjadi di dua persimpangan perang. Belanda waktu itu mengalami kebingungan karena Gowa begitu kuatnya sampai menaklukkan banyak kerajaan di sekitarnya. Nama Gowa Tallo pun muncul setelah wilayah kekuasaan Sultan Hasanuddin, raja Gowa waktu itu, menyatukan kekuasaannya sampai tanah Selayar bahkan mencapai perbatasan Ternate dan Minahasa. Tapi setelah Aru Palaka, putra mahkota Kerajaan Bone membelot membela Belanda, Hasanuddin terkejut dan mengalami kekalahan telak. Sang raja Gowa Tallo pun dipaksa menandatangani perjanjian Bongaya pada tahun 1667, menyerahkan kembali sebagian besar kekuasaannya pada VOC.”
Lama hening, bunyi kipas angin mendominasi ruangan yang menghangat itu. Andin tak bicara untuk beberapa lama, kemudian ia menarik badan dan mengeluarkan sesuatu dari laci mejanya.
“Kau sama sekali tak tahu apa-apa, Hendri. Ini,” katanya lalu meletakkan buku tebal itu tepat di depan tangan Hendri.
Buku itu nampak tegas, dengan sampul tebal dan gambar kuda jingkrak di tengahnya. Di atas kuda itu, seorang bersapu kain segitiga di kepala berambut gondrongnya membuka mulut lebar-lebar, seperti berteriak kepada kawanan orang yang tak nampak. Baju lengan panjangnya berwarna hijau mengkilap, kontras dengan kudanya yang hitam legam. Hendri memiringkan kepala melihat judul buku itu. Sang Aru.
“Bacalah itu. Lalu kembalilah dengan rayuanmu minggu depan tepat jam ini. Siapa tahu aku bisa meluangkan waktu untuk makan malam. Kalau kau paham apa yang kumau.”
Tapi Hendri tak secerdas itu. Ia malah membaca buku roman itu sampai habis, dan tak tahu apa yang diinginkan Andin atasnya. Sebuah kisah perjuangan sang pengkhianat tanah Celebes, yang ternyata secara implisit diakui sebagai pahlawan oleh kaumnya.
Hari keenam, Hendri membaca ulang bagian tengah, yang merupakan inti dari jawaban yang ia cari.
Halaman 367.
“Di dalam kebesaran suku Bugis Makassar yang berdiri di satu tanah sejak lahirnya,” Hendri membaca dengan sengaja mengeluarkan suara. Lembar-lembar itu nampak lebih jelas kini, saat ia melanjutkan kalimatnya dengan cahaya yang perlahan menguning melewati  kerai jendela.
Pikirannya terbang jauh ke masa itu. Ketika Benteng Rotterdam masih berupa bongkahan batu yang diangkat oleh pribumi-pribumi berkulit legam. Ia bergumam setiap kali membayangkan bala tentara suruhan Jenderal Isaac Martin dan Kapten Speelman berderap-derap turun dari kapal Verkutton kemudian dengan garang menghalau pribumi dengan peluru berdesing dan teriakan memusingkan kepala. Hendri tergelak, ketika membaca bagian ketika tentara-tentara dari Maros, Bonthain dan Takalar berlari kemudian menancapkan ujung-ujung badik mereka ke perut pasukan kulit putih. Darah menetes dan tanah memerah. Senja menggelayut begitu cepat, dan ratusan mayat bergelimpangan di jalan-jalan Westerling sampai ke ombak-ombak di Selayar. Sultan Hasanuddin mengangkat senjatanya, berteriak dengan bahasa Makassar, “Ewako! Paentengi siri’nu, nanikarannuang sibatu butta! Butta kamaradekanna Islanga.” Teriakan panji jihad Muslimin. “Berdirilah kalian dengan kebanggaan dan rasa malu. Bersatulah di tanah ini, tanah kemerdekaan Islam.”
Hendri tak merasakan bibirnya terus bergerak-gerak, bahkan mengulang lafal itu. Tapi kemudian matanya jarang berkedip ketika sampai pada bagian disekapnya putra mahkota kerajaan Bone. Bibirnya berhenti bergerak.
Selama lebih dari lima jam ia terduduk bersandar di kursi itu menghadap jendela. Suara ombak tak menembus kaca tapi ia bisa merasakan nyanyiannya. Ia menutup mata tapi seperti melihat Kapal Pinisi berlabuh dengan tujuh tiang megahnya.
Hendri terlelap sampai matahari mengintip dari balik awan pagi berikutnya.
Kantor tak begitu sibuk mengikuti pola reses yang dianut banyak birokrasi. Jam makan siang nampaknya adalah waktu yang cocok untuk mengungkapkan perasaan lagi. Dari jauh Hendri melihat Andin memeluk dada, mengamati mobil-mobil dan bus yang lalu lalang di bawah sana.
“Ternyata Aru Palaka bukan pengkhianat.”
Suara sapaan itu membuat Andin balik badan. Lengan itu masih terlipat di depan dadanya. Pandangannya lurus seperti kemarin. Tapi justru dengan itu Hendri langsung tahu, bahasa tubuh itu berbunyi pintu terbuka yang siap menerima jawaban. Lelaki itu nampak lebih percaya diri kini. Pundak lebarnya nampak makin berotot, matanya lebih hitam dan bersinar. Ia bahkan seperti memakai minyak rambut, untuk pertama kalinya.
“Dahulu, Sultan Hasanuddin dengan kerajaan Gowa Tallo menjajah, dalam tanda kutip, banyak daerah di Celebes. Dan setelah mereka semua ditaklukkan, akhirnya dibawa ke Gowa dan Makassar untuk kemudian ditawan orang-orangnya. Bone termasuk satu kerajaan yang ditaklukkan dan beberapa pejabat mahkotanya harus tunduk sebagai tawanan kerajaan.”
Hendri memulai tanpa membuka buku tebal yang masih terselip di tangannya yang lurus ke bawah. Andin mengamati itu sesaat kemudian menatap lagi ke arah mata.
“Pertengahan tahun 1600 sampai 1620-an,” lanjut Hendri, “Tujuh tahun di dalam tawanan kerajaan Gowa, Aru Palaka yang adalah putra mahkota Bone merasakan kepedihan luar biasa. Bukan hanya meratapi nasibnya yang tak lagi mendengar kabar soal tanah leluhurnya, tetapi lebih pedih lagi karena harus melihat nasib orang-orang Bone, kaum perempuan dan para tetua mereka di dalam penjara yang berhadap-hadapan. Sebagian besar waktu mereka dipaksa untuk membangun benteng-benteng pertahanan di sekeliling kerajaan Gowa dengan sistem kerja kasar dan tanpa upah sama sekali. Perlakuan bala tentara Kerajaan Gowa tak manusiawi baginya, mereka bahkan pernah memakan tikus yang lewat di selokan-selokan. Siri’ mereka telah terinjak-injak. Dan rasa pacce mereka telah memuncak dalam nasib yang sama. Kalau mau tetap hidup, orang-orang Bugis harus tetap pada keyakinan lamanya akan sare, paham luhur bahwa perbaikan hidup hanya akan dimulai dari tangan sendiri. Aru ingat betul semboyan-semboyan itu, bersama tatapan harap dari orang-orangnya di balik jeruji. Sejak itu, ia bertekad untuk keluar dari penindasan Kerajaan Gowa. Saat kesempatan itu tiba, dan situasi pertempuaran Nusantara melawan Belanda masih panas, Aru berhasil keluar dan tiba di kamp VOC. Sang putra mahkota yang membawa rasa sakit hati dan misi penyelamatan rakyatnya, lalu dengan tegas menawarkan kerjasama kepada Belanda.
Kapten Yonker yang memimpin dua ratus ribu tentara dari Pelabuhan Sabang sampai Nias lalu menerima tawaran itu. Aru Palaka didengarnya dari cerita orang-orang Batavia yang sangat mengagumi sosok berambut panjang dan pandangan yang menyala-nyala itu. Pertempuran Aru Palaka di bawah Bendera VOC pun pecah di Padang melawan pribumi-pribumi Minangkabau. Dibantu seratus pasukan Ambon dan sebagiannya Bugis, Aru menyusur dari laut dan langsung melakukan serangan mendadak. Dua ratusan tentara Belanda tewas, tapi Tanah Minang berhasil ditaklukkan. Dengan lekas Aru Palaka diangkat sebagai sekutu utama Belanda, dari tanah Bugis.”
Hendri berdeham, sementara Andin sudah duduk menopang dagu di meja kerjanya.
“Lima tahun kemudian, tepatnya Desember 1666, Aru Palaka bersiap di garis pantai Makassar. Sultan Hasanuddin tak kemana-mana, membuat tekad Aru semakin bulat untuk membalaskan dendam orang-orangnya. Penindasan tak akan terjadi lagi setelah ini, pikirnya waktu itu. Serangan tengah hari saat azan berkumandang, membuat ratusan tentara Gowa kewalahan menguasai serbuan dari dua arah. Meriam-meriam dari Kapal Belanda berdesing di telinga, sementara badik-badik tentara Aru menghujam di sana-sini dan terangkat ke udara. Sultan Hasanuddin yang tidak sempat menyelesaikan salat duhurnya lantas hanya bisa menyaksikan kepedihan dua jam setelah pertempuran itu. Pasukan Gowa kalah oleh semangat berkobar pasukan Aru. Kemenangan berpihak di bala tentara Bugis. Meskipun pada akhirnya Belanda yang menikmati semuanya.”
Hendri menghela napas sejenak.
“Sultan Hasanuddin dipaksa menyerah pada 1667, setelah menandatangani perjanjian Bongaya di benteng terakhir Gowa, di bawah pengawasan tujuh kapten dan satu gubernur Jenderal Belanda. Aru Palaka yang meraih keberhasilan kemudian dihadiahi tiga distrik jajahan, termasuk Bone yang pernah jadi pusat pemerintahannya. Orang-orang Bugis yang ditawan kemudian dibebaskan dan diberi kapal-kapal untuk pulang dan memulai pertanian mereka kembali. Nelayan-nelayan berterima kasih kepada Aru Palaka, sang putra mahkota.”
Kipas angin berputar pelan dan detakannya makin terdengar. Seorang staf coba mengetuk pintu kaca dari luar tapi Andin mengangkat telapak tangannya, memohon waktu beberapa menit lagi. Staf itu pergi.
“Hasanuddin menetap di Gowa, dan pergerakannya terus berada dalam pengawasan sekutu. Sampai saat ini, Bone dan sekitarnya tak pernah lagi disebut sebagai daerah bekas jajahan Gowa Tallo, tapi sebagai wilayah yang kembali. Tanah kepulangan, ketika rakyat dibebaskan dan putra mahkota memimpin kemenangan.”
Hendri mengakhiri penjelasannya sambil menyeka keringat di kening. Andin hanya menyimak bahkan setelah beberapa detik sejak kalimat terakhir itu terucapkan. Ia mengangguk tiga kali.
“Lumayan,” komentar Andin ringan.
Hendri tergelak dan lalu terkekeh dengan penilaian yang menurutnya sangat asal dan nyaris tidak menghargai itu. Lumayan, bukanlah termin yang tepat untuk upaya seminggu mempelajari sejarah dua kerajaan.
“Lumayan mengesankan, kau bahkan menghafal siripacce, dan sare yang adalah filosofi orang-orang Bugis sejak dulu. Tapi ada sesuatu yang aneh menurutku,” katanya sembari mengangkat pena yang terselip di jari.
“Kalau Aru memang membebaskan rakyatnya dari kungkungan kerajaan Gowa, dan ia disebut pahlawan pembebas, bagaimana dengan Sultan Hasanuddin? Apakah dia pantas disebut sebagai pemimpin yang lalim dan tidak manusiawi? Orang Makassar menyebutnya sebagai Ayam Jantan dari Timur. Pemberani tangguh yang sangat menonjol dalam penyebaran Islam di Nusantara timur.”
Hendri tak langsung menjawab sergapan pertanyaan itu, dan justru mengintip sesaat bukunya yang entah membuka di halaman berapa.
“Sultan Hasanuddin adalah pahlawan bagi islam Nusantara, tentu saja, bagi orang-orang Gowa dan juga suku Makassar. Ia bekerja untuk rakyatnya, dan sebagai pemimpin, ia tak ingin mengambil risiko yang bisa membahayakan kedaulatan kerajaannya, tidak dari penjajah VOC Belanda, tidak juga dari ancaman dalam Celebes. Dia seorang taktis, yang melihat potensi bahaya jauh sebelum itu terjadi. Penawanan Aru dan petinggi kerajaan Bugis menurutnya adalah bukti kekuatan yang tak bisa ditawar-tawar. Lagipula, ia bisa saja membunuh Aru Palaka sejak awal, tapi tak dilakukannya. Dia hanya menyingkirkan sementara satu dua tanaman dari tanahnya, untuk menghalau banyak daun kering yang bertebaran.”
Kalimat itu lancar keluar.
“Lagipula,” kata Hendrik lagi saat pandangannya menyasar ubin lantai hingga foto presiden di ketinggian. “Kurasa negara kita telah salah menempatkan Hasanuddin sebagai pahlawan nasional Indonesia. Sedangkan Aru Palaka tidak.”
Andin terkesiap. “Menurutmu begitu?”
“Ya. Mereka berdua adalah pahlawan bagi rakyat kerajaannya. Dan waktu itu, tanah kepulauan ini bernama Nusantara, dan bukannya Indonesia. Pahlawan nasional seharusnya diukur hanya dari dekade-dekade persiapan kemerdekaan sampai kebangkitan nasional. Ini adalah sejarah kerajaan yang jauh sebelum konstitusi dibuat. Mereka pahlawan bagi ribuan rakyat suku tanpa harus dinobatkan dengan surat. Batu-batu permata dan ukiran Lontara Bilang di nisan-nisan mereka cukup menegaskan kepahlawanan mereka. Kalau Hasanuddin, Imam Bonjol, dan Antasari dianggap pahlawan nasional, maka lembaran keputusan kita masih harus menampung lebih banyak lagi nama. Mereka-mereka yang berjuang tanpa banyak didengar kisahnya.”
Hendri menatap langit-langit. “Menurutku kita harusnya malu, karena hanya bisa menghargai mereka lewat gambar-gambar di dinding sekolah, tapi enggan membaca kisah latar perjuangannya yang jauh melebihi makna patriotisme. Mereka berjuang untuk sesuatu yang jelas, dan  mereka tahu itu sampai menang, atau mati.”
Andin tersenyum. Bunyi ketukan di pintu itu terdengar lagi. Kali ini seorang tamu yang nampaknya tak bisa ditolak kedatangannya. Perempuan auditor itu bangkit dari kursinya lalu berlalu melewati Hendri. Pintu dibuka dan tamu lelaki tua itu dipersilakan duduk. Dengan isyarat tangan Andin meminta Hendri meninggalkan mereka.
Hendri merasa kalah, lagi. Tapi setidaknya kali ini ia lebih puas. Mengungkapkan hasil penilaiannya sendiri, yang sebelumnya jauh dari perkiraan dan pemahamannya tentang sejarah.
“Aku minta maaf,” kata Hendri membuat Andin dan tamunya berhenti dan menyimak seketika. Pintu bergerak pelan hampir menutup.  Hendri menegaskan kalimatnya setelah menangkap dua bola mata memandang Andin.
“Aku telah salah menganggap seorang pahlawan sebagai pengkhianat. Kukiran kita telah bodoh mengira-ngira arti beda dari dua kata itu, tanpa berani memasang sudut pandang untuk menghargai perjuangan atas nama kemanusiaan dan cinta bangsa. Aru Palaka adalah pahlawan, dan Sultan Hasanuddin sama pentingnya. Baik bagi orang-orang Bugis ataupun Makassar, kedua orang ini harus terus diingat sebagai patriot sejati.”
Senyum akhirnya terkembang, dan Andin telah menyetujui permintaan Hendri. Sebuah rencana makan malam di atap Hotel Celebes yang megah di pinggir Sanur. Tiga malam dari sekarang, kedua orang ini akan menikmati kencan hangat pertama kalinya, meski tak harus menyinggung soal kepahlawanan tiga abad yang lalu itu.
“Dia pasti menceritakan hal yang sangat penting kepada Anda,” komentar tamu tua itu ringan ketika menyodorkan berkasnya. Andin yang terkejut hanya bisa tersenyum dan menghela napasnya.
“Ya,” Andin membalas dengan suara yang jauh lebih santai.
“Laki-laki abad duapuluh satu harus pintar tak cuma merencanakan masa depan, tapi juga belajar dengan benar dari masa lalu.”
Dalam hatinya, perempuan itu merasa terpuaskan.
Selesai.
***
Aru Palaka wafat 6 April 1696 dan dimakamkan di Bontobiraeng, kompleks makam raja-raja Gowa. Jaraknya kurang dari 5 kilometer dari makam Sultan Hasanuddin yang meninggal 26 tahun lebih dulu.